And The Mountains Echoed – Khaled Hosseini

And The Mountain Echoed Pic 1

“Kau akan selalu di dekatku.”
“Ya.”
“Sampai kita tua.”
“Tua Bangka.”
“Untuk selamanya.”
“Ya, untuk selamanya.” ~ Abdulloh dan Pari ~ h.43

Janji masa kecil yang sayangnya, tak dapat terpenuhi karena dongeng raksasa penculik anak menjadi realita dalam kehidupan Baba Saboor, ayah Abdulloh dan Pari. Kisah perpisahan kedua bersaudara mengalir melalui berbagai sudut pandang, dari generasi ke generasi. Penceritaan dari berbagai sudut inilah yang kemudian menyibak juga isi hati setiap tokohnya dengan tetap berpusat pada kisah Abdulloh dan Pari.

Penceritaan dari Nabi menjadi yang terpanjang dalam buku ini, karena dialah yang menjadi awal mula tragedi, sekaligus kunci pembuka ingatan Pari di masa depan. Sedangkan, kisah yang diceritakan melalui Idris, menjadi yang sangat berkesan bagiku, walaupun termasuk salah satu yang cukup jauh kaitannya dengan pusat cerita.

Kisah Idris memperlihatkan betapa rapuhnya hati manusia. Perubahannya bisa terjadi kapan pun, bahkan mempengaruhi sisi kemanusiaan yang sebelumnya begitu menggebu, tapi berangsur lenyap bersamaan dengan pembenaran-pembenaran diri yang didengungkan.

Butterfly Effect, menjadi salah satu istilah yang kerap muncul selama membaca And The Mountain Echoed. Sebuah keinginan dicintai, ternyata dapat menjadi awal mula kisah panjang tentang perpisahan, penerimaan, pemberontakan, dan kerinduan.

“Lewat novel ini Hosseini berkisah bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya.” ~ sinopsis.

Afghanistan menjadi latar belakang yang diambil Hosseini di semua novelnya, meski saya sendiri masih baru membaca And The Mountain Echoed. Semua kisah dengan berbagai sudut pandang pun menggambarkan kondisi Afghanistan dari tahun ke tahun. Tapi menurutku pribadi, penggambaran Afghanistan dari novel And The Mountain Echoed terlalu mengikuti arus yang telah diembuskan media-media ‘Barat’ tentang Afghanistan ataupun gerakan Taliban/Mujahidin.

Sudut cerita tokoh Nila Wahdati dengan pemberontakannya pada sang ayah yang dianggap mengekang, atau tentang Adel yang memiliki orangtua mantan mujahid yang kemudian menjadi tokoh masyarakat, menjadi contoh penceritaan yang tidak obyektif karena tidak diimbangi oleh sudut pandang pemikiran yang bertentangan.

Awalnya, sempat berharap akan mendapatkan kisah seperti Snow – #OrhanPamuk, yang memperlihatkan gambaran kehidupan Turki serta menuturkan pro dan kontra dari sebuah pemahaman/pergerakan yang terjadi pada saat itu. Sayangnya, harapan mendapat pandangan yang lebih obyektif tentang latar sejarah/pergerakan di Afghanistan tidak terpenuhi, dan lebih cenderung menyudutkan pihak tertentu.

Terlepas dari ketidak-sregan saya, alur cerita dari setiap sudut pandang selalu mengesankan, komplek sekali, dan tidak ada yang sia-sia. Semua tokoh menyimpan kesedihan yang tertuang dengan sangat apik, tak diragukan pembaca akan ikut hanyut di setiap problema masing-masing tokohnya.

And The Mountains Echoed | Khaled Hosseini | Penj.  Berliani Mantili Nugrahani | Penerbit Qanita | Cet I, Juli 2013 | 516 hlm | 🌟🌟🌟