Jane Eyre by Charlotte Bronte

Setelah membaca sinopsis Jane Eyre, sempat muncul keraguan karena terbayang akan menemukan romansa ala #PrideAndPrejudice. Tapi, rasa penasaran berhasil mengalahkan keraguan.

Kisah dituturkan dengan gaya seperti autobiografi, dari sudut pandang tokoh utama, Jane Eyre. Kehidupan masa kecil yang kelam, menempa karakter kuat dan tegar di kemudian hari. Pertemuannya dengan Mr. Rochester menyemarakkan kehidupan Jane Eyre yang sebelumnya monoton, sekaligus menjungkirbalikkan perasaannya.

Karakter-karakter dalam novel klasik ini terasa kuat. Saya dibuat berkali-kali jengkel dengan kecuekan Mr. Rochester, tapi juga terpesona dengan keangkuhannya. Kekeraskepalaan Jane terkadang juga menyebalkan, tapi berkat sifatnya itu, dia mampu menjadi sosok yang karismatik hingga akhir cerita.

Alur yang lambat kerap terasa membosankan, tapi ‘misteri’ wanita di atas loteng dan penasaran bagaimana kelanjutan kehidupan Jane Eyre setelah meninggalkan Thornfield mampu mempertahankan saya untuk menuntaskan novel Jane Eyre.

Tak rugi bertahan membaca novel setebal hampir 700 halaman ini, karena akhir ceritanya, meski bahagia, tetap menyimpan kedukaan sekaligus kesan yang mendalam.

Judul: Jane Eyre
Penulis: Charlotte Bronte
Penerjemah: Lulu Wijaya 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Oktober 2010
Tebal: 686 halaman
Bintang: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s