Lust For Life by Irving Stone

2013-06-14 08.17.19 Berbicara tentang lukisan, saya sama sekali tidak mengerti, apalagi dengan para pelukisnya. Nama Van Gogh sendiri pernah sekilas didengar, tapi tidak menggugah saya untuk mencari tahu lebih lanjut. Tapi, pas melihat buku bersampul kuning yang bagian depannya ber-tagline ‘Kisah Nyata Vincent Van Gogh, Pelukis Termahal di Dunia yang Mati sebagai Orang Terbuang’, saya jadi tertarik.

Bisa dibilang berkat patah hati, Van Gogh menemukan jalan hidupnya, meski tidak dengan cara instan. Dimulai dari sakit hatinya kepada Ursula yang menolak pernyataan cinta dan ajakan menikah, Van Gogh pergi ke Amsterdam untuk belajar menjadi pendeta, mengikuti jejak Sang Ayah. Sayangnya, pemikiran dan cara Van Gogh untuk terlibat langsung dengan jama’atnya ternyata dipandang aneh oleh seniornya.

“Kalau dia merawat orang sakit, menghibur orang-orang yang sedih, menenangkan pendosa, dan mengajak orang yang tak beriman untuk percaya, apakah itu juga kegagalan?” [Van Gogh – h.55]

Keinginan Van Gogh untuk mengabdi secara total di tempat tugasnya, Borinage, menjadi awal tergambarnya idealisme yang tinggi dalam diri tokoh. Kehidupan penambang yang sangat miskin, dengan pekerjaan yang dapat menyeret mereka pada kematian, membangkitkan kepedulian Van Gogh. Kepedulian yang tidak tanggung-tanggung, semua miliknya diberikan kepada keluarga-keluarga penambang. Bahkan dia merasa harus hidup seperti mereka, sehingga memutuskan tinggal di sebuah gubuk daripada fasilitas rumah hangat yang disediakan untuknya. Empati yang begitu besar inilah, yang kelak menemaninya selama menciptakan lukisan.

“Untuk melukiskan kehidupan orang harus memahami tidak hanya anatomi, tetapi juga apa yang dirasakan dan dipikirkannya tentang dunia tempat mereka tinggal. Seorang pelukis yang hanya paham akan keterampilan tangannya sendiri dan bukan yang lain nantinya akan menjadi pelukis yang sangat dangkal.” [Van Gogh – h. 149]

Sayang karir penyebar kabar injilnya harus berakhir karena alasan yang bagi saya agak arogan dan sangat tidak bersimpati. Berakhirnya tugas, membawanya pada kegemaran baru, yaitu membuat sketsa. Mulai menyalin lukisan-lukisan ternama dan menggambar aktivitas penambang. Kegilaannya menggambar diawali dari kesenangannya membuat sketsa figur. Semakin lama, Van Gogh yakin bahwa dirinya dilahirkan sebagai pelukis. Namun, Ayahnya kerapkali meremehkan keinginan besar Van Gogh, karena memandang pelukis tidak memiliki status sosial dan penghasilan yang layak.

“Tujuan aku melukis adalah membuat orang melihat yang layak diamati dan tidak diketahui semua orang. Kalau kadang aku harus mengorbankan sopan santun sosialku agar pekerjaanku selesai, apakah tindakanku tidak bisa dibenarkan? Apakah aku merendahkan diriku sendiri dengan hidup bersama orang-orang yang aku gambar? Apakah aku merendahkan diriku sendiri dengan pergi ke rumah-rumah para pekerja dan orang miskin, dan ketika aku menerima mereka di studioku?” [Vincent Van Gogh – h.245]

“Seiring berjalannya musim gugur dan ketika para pelukis lain mulai tenggelam di dekat perapian di studio mereka, dia keluar untuk melukis di tengah terpaan angin, hujan, kabut, dan badai. Dalam cuaca yang paling keras catnya yang basah sering tertutup dengan pasir yang beterbangan dan air asin, Hujan membasahi seluruh badannya, kabut dan angin membekukannya, pasir masuk ke dalam mata dan hidungnya … dan dia sangat menikmati setiap menit dari semua itu. Tidak ada apapun yang bisa menghentikannya sekarang kecuali kematian.” [h. 276]

Luar biasa perjuangan Van Gogh untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagai seorang pelukis. Lebih luar biasa lagi adalah sosok di belakangnya yang amat sangat mempercayai impian Van Gogh, di saat sekitarnya mencemooh. Dia adalah Theo Van Gogh, adik yang berprofesi sebagai penjual lukisan ternama. Kebutuhan sehari-hari Van Gogh selama aktivitas melukis, yang tidak menghasilkan uang sepersen pun, disokong oleh adiknya. Theo menjadi gambaran hangatnya kasih sayang, disela-sela kesuraman dan kegilaan hidup Van Gogh.

Membaca novel biografi Vincent Van Gogh ini membutuhkan kesabaran. Ceritanya lambat yang setengahnya berisikan seni melukis dan analisa-analisa lukisan, membuat saya, yang tidak terlalu mengerti lukisan, menjadi agak bosan. Tapi rasa bosan selalu tertutupi dengan keingintahuan sampai dimana kegigihan Van Gogh untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Selain itu, cerita hidup Vincent Van Gogh mengajarkan tentang keyakinan yang besar atas potensi diri, kesabaran yang tak kenal habis, serta kasih sayang dan kepercayaan yang begitu hangat bisa menjadi secercah semangat di saat diri mulai berpikir untuk menyerah.

Judul: Lust For Life
Penulis: Irving Stone
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Cetak: Pertama, Juli 2012
Tebal: 574 hlm
Bintang: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s