A Beautiful Lie by Irfan Master

A Beautiful Lie - Dusta yang Indah

“Sejak dulu saya pikir keberanian berarti punya nyali untuk berkata jujur. Saya pengecut, tapi tidak apa-apa. Saya tidak keberatan dianggap pengecut asalkan Bapuji bisa meninggal dalam damai.” [Bilal – h. 270]

Dusta yang Indah. Seringkali kita mendengar istilah bohong putih atau white lies, bohong yang dilakukan demi kebaikan orang lain. Tapi, benarkah ada kebohongan yang dapat memberikan kebaikan? Hmmm… setiap orang berhak memberikan jawaban. Seperti halnya, Bilal yang memutuskan untuk terus berdusta kepada Bapuji-nya [read: ayahnya] yang sedang sekarat. Bilal rela melakukan apapun supaya dustanya tetap terjaga, HARUS, demi ‘kedamaian’ Bapuji.

Konflik di ranah India yang menyebabkan Bilal harus terus menguatkan diri bahwa apa yang dilakukannya adalah benar. Berlatar sejarah tahun 1947, di mana India sedang menuju perpecahan wilayah, permusuhan antar agama, dan kerusuhan yang mengakibatkan kematian hampir sejuta orang akibat konflik tersebut. Bilal tidak ingin, bayangan Bapuji tentang India yang damai menjadi hancur. Kakak Bilal pun tidak dapat diharapkan sejak terlibat dalam kerusuhan yang kerap menimpa antar agama. Beruntung Bilal memiliki Saleem, Chota, dan Manjeet, sahabat-sahabat yang membantu memuluskan dustanya.

“…. apapun keadaannya, mereka masih tetap di sini, mendampingiku. Hatiku berbunga-bunga karena tahu bahwa mereka adalah sahabat-sahabatku.” [ h. 85]

Mereka menyusun rencana supaya tidak ada orang yang datang ke rumah, terutama yang berpotensi untuk menceritakan kondisi buruk India. Tak berhenti di sana, Bilal pun harus menciptakan koran, saat Bapuji begitu merindukan membaca berita di sekitarnya. Sungguh, luar biasa melihat usaha Bilal dan sahabat-sahabatnya menjaga Bapuji, tindakan yang berani tapi dilandasi kasih sayang yang begitu besar.

Ketidakrelaannya melihat Bapuji terluka memberikan beban yang sangat menyedihkan di pundak Bilal. Seandainya cerita hanya berputar dengan usaha Bilal ‘menjaga’ Bapuji sudah pasti akan membuat saya sedih sekali membacanya. Beruntung, masih ada kisah persahabatan empat bocah lelaki ini yang dapat memberi senyum dan secuil ‘keriangan’ anak-anak, meski masing-masing ternyata menyimpan dukanya sendiri.

Saya dibuat hanyut dalam cerita yang menyimpan kesedihan, rasa miris, dan aura permusuhan, tapi membalut semangat, persahabatan, dan kasih sayang. Saya merasakan haru saat melihat bagaimana orang-orang dewasa di sekitar Bilal berusaha memahami, bahkan membantu, seorang anak yang sangat ingin melindungi Bapujinya. Penutup cerita pun mengantarkan pada sebuah renungan tentang, apakah dusta itu benar-benar indah?

Judul: Dusta yang Indah
Judul Asli: A Beautiful Lie
Penulis: Irfan Master
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Pertama, September 2012
Tebal: 302 hlm
Bintang: 5/5

2 thoughts on “A Beautiful Lie by Irfan Master”

  1. Saya setuju dengan white lie,mbak…kadang kebenaran tentang sesuatu itu hanya menjadi rahasia Allah,lebih indah bila manusia tak mengetahuinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s