Setelah Malam Itu by Amy Efaw

After

Fenomena pembuangan bayi, yang seringkali diakibatkan kehamilan di luar nikah, menjadi keprihatinan banyak pihak. Penghakiman mulai muncul dari mulut dan pikiran orang-orang yang mendengar atau melihat berita/kenyataan mengerikan itu. Komentar miring, bahkan hujatan, menjadi semacam pelampiasan pada pihak ‘luar’ untuk melegakan kejengkelannya. Tak ayal, muncul komentar, “koq tega ya membuang bayi yang lucu.” Tapi, apa sih yang dirasakan pihak ‘dalam’, atau sang pelaku, ketika melakukan perbuatan tidak berkemanusiaan itu? Apakah kita pernah memikirkan masalah ini dari sisi pandang sang pelaku?

Bisa jadi sangat banyak alasan kenapa seseorang bisa sampai membuang bayi yang dilahirkan dari rahimnya sendiri. Lewat After, Amy Efaw mencoba memaparkan salah satu kisah tentang remaja yang membuang bayinya, dari sudut pandang sang pelaku. Devon Davenport, remaja berprestasi, bahkan layak disematkan gelar teladan, mengalami goncangan hebat saat ditemukan di rumahnya dalam kondisi mengeluarkan banyak darah. Mengikuti intuisinya, polisi yang menemukan Devon menghubungkannya dengan kehebohan tentang bayi yang dibuang di tempat sampah, di belakang apartemen Devon, pada hari yang sama.

Setelah Malam Itu, kehidupan Devon berubah total. Dia harus masuk ke Pusat Penahanan Remaja Remann Hall dan menghadapi tuntutan percobaan pembunuhan atas bayinya. Hari-hari dilalui Devon dengan membawa ketakutan-ketakutan, seiring kemunculan ingatan-ingatan yang sempat terhapus akibat penolakan keras yang dilakukan dirinya atas perkembangan janin dalam perutnya. Penolakan itu hadir karena Devon tidak dapat menerima dirinya, yang dinilainya, berbuat seperti ibunya.

Kebenciannya kepada Sang Ibu yang menurutnya sangat egois, penggoda, dan kekanak-kanakannya membuat Devon menerapkan peraturan tak tertulis yang ‘dipaku’ di benaknya, bahwa dia tidak boleh seperti ibunya. Dia harus bisa menangani segalanya sendiri. Peraturan yang kemudian membuatnya terpuruk serendah-rendahnya, ketika Devon merasa telah melanggarnya.

Berkat risetnya, penulis berhasil menyampaikan sisi psikologis Devon dengan “penyangkalan” diri yang sempat membuatnya hilang ingatan. Sepanjang membaca, saya diajak untuk ikut mempelajari kondisi kritis Devon, mulai dari sebutan “ITU” sampai aksi penyangkalan Devon yang memblok ingatan dan membuatnya linglung. Proses pendewasaan Devon pun tak luput menjadi perkembangan psikologis dan kedewasaanya, di mana Devon mulai memahami perkara yang menimpanya.

Sedikit melegakan saat membaca, bagaimana ketika Devon mulai belajar memaafkan, bagaimana dia melihat sisi lain Ibunya, bagaimana matanya mulai ‘terbuka’ terhadap orang-orang di sekitarnya. Semua mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu yang instan, segalanya membutuhkan proses dan kesabaran. Selain itu, penulis juga diperkenalkan proses hukum, mesi hanya sidang pendahuluan, melalui perbincangan Dom dan Devon, juga aksi sang pengacara di pengadilan. Meski kurang tahu apakah sama dengan proses hukum di Indonesia, tapi saya jadi tahu bagaimana sebuah negara menangani warga remajanya yang bermasalah.

Eniwei, saya menyukai “persahabatan” Devon dan Karma ^_^

Judul: Setelah Malam Itu
Judul Asli: After
Penulis: Amy Efaw
Penerjemah: Nina Andiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: September 2011
Tebal: 456 hlm
Bintang: 4/5

6 thoughts on “Setelah Malam Itu by Amy Efaw”

    1. hehehe…ini juga karena rating bukunya di Goodreads bagus Mbak, jadinya penasaran, nyari deh bukunya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s