The Calligrapher’s Daughter by Eugenia Kim

Saat ini Korea sedang mewabah di Indonesia, dari musik, serial tv, mode, sampai buku. Penerbit pun terlihat berlomba-lomba untuk menerbitkan buku dengan gaya atau setting Korea. Sayangnya, sejauh yang saya lihat, sebagian besar hanyalah mengangkat tema percintaan. Maka saat membaca sinopsis The Calligrapher’s Daughter di website GagasMedia, saya salut, ternyata ada yang bisa mengambil sesuatu yang lain dari wabah buku bertemakan Korea.

Berlatarkan masa penjajahan Jepang di Korea, tahun 1915 s/d 1945, kisah Najin Han dituturkan. Sebagai anak perempuan yang zaman tersebut masih dipandang tidak cukup penting, Najin Han harus berupaya keras supaya dapat meraih impiannya mendapatkan pendidikan. Saat berusia 14 tahun, Seniman Han menginginkan perjodohan Najin Han dilangsungkan dengan putra sahabatnya yang berumur 12 tahun. Untunglah, sang Ibu tahu betul apa keinginan Najin, hingga mengirimkan surat kepada sepupunya, Imo, agar putrinya bisa menjadi pelayan istana.

Cover Asli

Kekuasaan Jepang ternyata berdampak sangat besar pada keluarga Kaisar. Kejatuhan dinasti yang tinggal menunggu waktu pun, akhirnya terjadi juga. Kebersamaan Najin dengan Putri Deokhye harus diakhiri dengan kembalinya Najin ke kampung halaman. Kehidupan masa jajahan Jepang yang tergambarkan dengan baik, terus mewarnai kisah hidup Najin yang mulai beranjak dewasa. Adik lelakinya, Ilsun, juga mulai masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sayangnya, orang tua Najin Han tidak dapat terlalu banyak memberikan uang untuk sekolah adiknya, sehingga Najin Han pun harus sekolah sembari bekerja untuk membantu biaya sekolah dan uang saku adiknya.

Memiliki ayah dengan pemikiran konservatif, sudah tentu bukan hal mudah, terutama pada zaman di mana wanita dianggap nomor sekian di segala hal. Hampir sebagian besar konflik Najin Han di rumah adalah berurusan dengan Seniman Han. Masa kecil Najin Han, tidak terlalu indah saat dikaitkan dengan Sang Ayah yang merupakan tokoh perjuangan kemerdekaan rakyat. Seringkali tentara Jepang menggedor-gedor pintu rumah, demi melakukan penangkapan Sang seniman kaligrafi tersebut untuk dipenjara, yang kelak juga dirasakan oleh Najin Han.

Berbagai pemikiran dan dialog politik juga berhasil disuguhkan penulis untuk memperkaya isi dari cerita. Apalagi ketika Najin Han kemudian dijodohkan dengan seorang calon pendeta, bernama Calvin Cho yang banyak mengusung pemikiran dan perilaku modern, yang banyak mengejutkan Najin Han. Ujian terus datang disepanjang perjalanan hidup Najin Han yang menuntut kesabaran tinggi, begitupun ketika menjadi seorang menantu.

Eugenia Kim

The Calligrapher’s Daughter adalah novel pertama dari Eugenia Kim, yang terinspirasi oleh kehidupan dari ibunya. Meski ini novel pertama, sepertinya The Calligrapher’s Daughter akan menjadi masterpiece sang penulis, terlihat dari didapatnya beberapa penghargaan, yaitu Winner of the 2009 Borders Original Voices Award; A Best Book of 2009, The Washington Post dan Shortlisted for the 2010 Dayton Literary Peace Prize in Fiction.

Latar kepenulisan yang cukup berpengalaman, berhasil membuat buku ini menjadi historical fiction about Korean History yang layak untuk dibaca.

Judul: The Calligrapher’s Daughter
Penulis: Eugenia Kim
Penerjemah: Gema Mawardi
Editor: Yenni Mailina
Penerbit: GagasMedia
Cetak: Pertama, 2012
Tebal: 600 hlm
Bintang: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s