Bidadari-Bidadari Surga by Tere Liye

“Hari ini, garis kehidupan sederhana dan apa adanya milik mereka mulai menjejak masa-masa depan yang gemilang. Anak-anak yang mengukir indahnya perjuangan hidup. Yashinta dengan berang-berangnya. Dalimunte dengan kincir anginnya, Ikanuri dan Wibisana, entah dengan apanya. Dan Kak Laisa dengan segala pengorbanannya.” [h. 64]

Mengenal sosok Laisa sungguh luar biasa. Pengorbanannya sebagai anak sulung ditempuhnya dengan kesabaran dan keikhlasan. Laisa memiliki 4 orang adik dengan beragam karakter, Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Tashinta. Sejak kematian Babak, Laisa harus mati-matian memenuhi janjinya dengan membantu Mamak untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolah adik-adiknya. Laisa sendiri lebih memilih untuk berhenti sekolah supaya tidak semakin membebani keluarga.

Keberagaman karakter keempat adik Laisa, menjadi salah satu sisi yang menarik untuk dicermati. Saya sendiri jadi diajak untuk mengakrabi tingkah polah anak-anak yang memang berbeda, terutama Ikanuri yang memiliki karakter pemberontak. Kejadian Ikanuri di kebun mangga Wak Burhan pun memperlihatkan kekerasan karakter Ikanuri, hingga sukses mengundang air mata, kala ucapan kasar Ikanuri tepat menusuk di bagian sensitif dalam diri Laisa, yang kelak membuat salah satu sigung nakal itu tergugu penuh sesal. Karakter seperti ini yang sekarang banyak sekali ‘mengidap’ dalam diri anak-anak.

Keinginan untuk terus melindungi dan selalu memberikan yang terbaik untuk adik-adiknya, membuat Laisa tidak mempedulikan kondisinya sendiri. Kekuatan dan ketulusannya berkali-kali menyelamatkan Ikanuri & Wibisana dari ancaman harimau Kendeng; rela mata kakinya terkilir demi kesembuhan Yashinta; memberikan kepercayaan dan pembelaan untuk Dalimunte di pertemuan di Balai Kampung. Pengorbanan yang tak henti dari sang kakak, ternyata membuat adik-adiknya ingin menjaga perasaan Laisa. Konflik pun berkembang dan menyentuh ranah sensitif, yaitu pernikahan.

Penceritaan dengan alur maju-mundur yang didukung dengan kecerdikan penulis dalam meletakkan kejutan menciptakan rasa penasaran yang mendorong untuk terus membaca. Selain itu, kesederhanaan yang menjadi ciri novel-novel Tere Liye pun terlihat dalam ‘Bidadari-Bidadari Surga’. Ide sederhana, konflik sederhana, bahasa pun sederhana, namun terangkai dengan sangat apik dan membuat cerita semakin menyentil-sentil titik empati. .

Judul: Bidadari-Bidadari Surga
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Cetak: 2008
Tebal: vi + 368 hlm
Bintang: ***

Sumber foto anak-anak: http://www.flickr.com/photos/liamsismile/5114579008/in/photostream

5 thoughts on “Bidadari-Bidadari Surga by Tere Liye”

  1. aku belum baca buku ini,
    baca ripiu ini, jadi kepingin baca tapi takut bosen dengan gayanya bang darwis. hpfh.
    ini aja sunset bersama rosie ga maju-maju halaman-dibacanya -.-a

    1. Aku belum pernah baca Sunset with Rossie, tapi pernah baca serial anak mamak gak?
      Semacam itu Ziy, jadi kalau pernah baca dan suka, insyaALLAH Bidadari-Bidadari Surga juga suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s