I Love Monday by Arvan Pradiansyah

Sejak remaja, di kepala saya terpatri konsep bekerja adalah mencari uang. Bahkan, orangtua menyekolahkan hingga mendapat gelar S1 pun tujuannya supaya kelak bisa mendapatkan pekerjaan. Ternyata cara pemikiran seperti ini tidak hanya terjadi pada saya, karena sebagian besar orang pun berpikir yang sama. Saya dulu sempat bekerja di dunia konsultan perencanaan perairan. Jargon ‘I Hate Monday’ pun melanda benak saya setiap kali datang hari Senin. Jujur, saya memang tidak menikmati rutinitas keseharian saat itu, padahal pekerjaan tersebut sesuai dengan jurusan yang diambil.

I Love Monday hlm.68

Cara berpikir yang demikian inilah yang coba dikritisi dan diubah oleh Arvan Pradiansyah lewat bukunya, I Love Monday. Secara garis besar, penulis menyampaikan sebuah konsep berpikir bahwa bekerja yang selama ini selalu diidentikkan dengan mencari uang, perlu diubah supaya lebih bersemangat menjalani pekerjaan sehari-hari.

Paradigma yang sangat menarik, hanya saja ketika saya sambungkan dengan pengalaman bekerja dahulu, sangat sulit diterapkan. Keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk si Bos, ternyata bertentangan dengan hati nurani. Well, maka selanjutnya saya lebih menerapkan paradigma ‘I Love Monday’ pada dunia bisnis yang ingin saya geluti.

Bekerja adalah melayani. Dalam bisnis memberikan pelayanan sudah menjadi harga mati, kalau tidak ingin ditinggal pelanggan. Namun, poin yang menarik bagi saya dalam buku ini adalah pemahaman tentang totalitas pelayanan. Sebagian besar dunia bisnis yang berhubungan dengan pelanggan seringkali hanya berinteraksi saat terjadi transaksi, jual-beli misalnya. Jarang ada yang beberapa waktu setelah transaksi, bertanya kepuasan pelanggan, sudah sesuaikah produk yang dibeli? Apakah ada kendala/masalah saat menggunakan produk? Seakan-akan setelah transaksi, hubungan penjual-pembeli berhenti sampai di situ. Perihal ini pun diangkat penulis dalam pembahasan konsep ‘melayani’.

I Love Monday hlm.278

Sebenarnya, sebagian besar pembahasan ‘I Love Monday’ ditujukan pada pegawai, dimana jargon ‘I Hate Monday’ sering dikumandangkan. Penulis mengajak untuk menjalani pekerjaan sebagai aktivitas ibadah, sebagai bentuk pelayanan. Pemahaman tersebut menurut pengalaman penulis membuat kita menjadi sosok yang berkualitas sehingga tanpa dicari pun uang akan datang dengan sendirinya. Selain itu, penulis memberikan pemahaman baru tentang makna dari bekerja = ibadah.

Beragam ilustrasi cerita dan bagan mempermudah pembaca untuk memahami dan mencerna dengan baik apa yang disampaikan penulis. Hanya saja, menurut saya susunan subbab tidak terlalu runut, terkesan bolak-balik, terutama pada sub-bab tengah-tengah. Semisal ketika kita sudah mendapatkan pemahaman bahwa jangan menjadikan uang sebagai tujuan, dengan mengambil contoh sosok Hideyoshi dan kemudian masuk ke permasalahan spiritualitas dalam bekerja [yang menurut saya harusnya menjadi puncak pemahaman]. Ketika masuk ke bab selanjutnya, pembaca disuguhkan kisah tentang dokter yang hanya mengincar gigi, yang artinya kembali ke pembahasan sebelum-sebelumnya.

Membaca I Love Monday memberikan semacam ‘pencerahan’ kala memandang pekerjaan yang mungkin telah kita jalani bertahun-tahun. Bahwa kenikmatan bekerja akan lebih terasa saat manusia lebih memikirkan untuk memberi daripada meminta.

I Love Monday hlm 117

Judul: I Love Monday
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerjemah: Budhyastuti R. H.
Penerbit: Kaifa
Cetak: Pertama, Maret 2012
Tebal: xxx + 302 hlm
Bintang: ****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s