Ibuk by Iwan Setyawan

Cover Buku [sumber:: koleksi pribadi]
Cover Buku [sumber:: koleksi pribadi]
Awal yang menggerakkan saya menginginkan Ibuk, adalah sampul depannya. Saya suka sekali penggabungan coretan tangan, samar-samar gambar batik dan gradasi sosok Ibu. Terasa hangat pencerminan dari karakter yang seringkali melekat pada Ibu dan pas dengan keinginan Iwan Setyawan untuk mengangkat sosok perempuan yang memiliki berpengaruh besar dan mengiringi perjalanan tokoh Bayek.

Ceritanya cenderung datar tapi selipan dan ‘kepolosan’ penulis dalam bercerita malah membuat saya jadi terhanyut di dalamnya, apalagi penggambaran dan perjuangan sosok Ibuk mengingatkan pada Ummi saya sendiri. Dimulai dari pertemuan Ibuk dengan Bapak hingga keputusan untuk menikah dan memiliki 5 orang buah hati. Bayek adalah anak lelaki satu-satunya, dan termasuk bocah yang sangat manja dan keras kemauan. Apa yang diinginkannya akan selalu ‘menghantui’ Ibuk lewat rengekannya.

Quote Ibuk
Quote Ibuk

“Ah, semuanya. Semuanya. Hidup penuh dengan keprihatinan. Tidak mudah dimengerti oleh anak-anak tapi Ibuk ingin menyelamatkan mereka. Hidup dengan kesederhanaan untuk masa depan keluarga” [Ibuk ~ h.102]

Meski hidup prihatin, Ibuk tetap berupaya memberikan apa yang diminta anak-anaknya, terutama dalam hal sekolah. “Sabar yo,” menjadi jurus Ibuk, kala uang tidak ada sedangkan biaya sekolah harus terpenuhi, bahkan ketika Bapak mulai putus asa dengan angkotnya mulai tidak bersahabat.

Meski novel ini mengambil judul Ibuk, sosok Bapak tergambar lewat perjuangannya menarik angkot dan bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan, jelang akhir kisah, sosok Ayah menjadi lebih dominan dibandingkan Ibuk.

“Akan kulanjutkan kembali tulisan tentang Ibuk. Tentang kekokohan keluarga Bapak. Orang-orang yang melihat kemiskinan bukan sebagai penderitaan tapi titik awal sebuah perjuangan.” [Ibuk ~ h.107]

Penulis sangat sedikit menyentuh perihal deskripsi tempat yang banyak didatangi Bayek, padahal tempat yang disinggahinya termasuk yang menarik untuk digambarkan. Mungkin alasannya, karena Iwan Setyawan ingin pembaca lebih menangkap kehebatan di balik kesederhanaan sosok Ibuk dan memang berhasil pada saya. Ceritanya tidak bertele-tele, terasa apa adanya, seperti membaca buku harian seseorang, yang memang dalam buku ini dituliskan oleh sosok ‘Aku’.

Iwan Setyawan
Iwan Setyawan

Sebelumnya, penulis telah menuliskan buku 9 Summer 10 Autums yang berhasil menyematkan label best seller pada bukunya. Saya sendiri belum membacanya karena tidak terlalu suka menikmati buku yang masih hingar bingar diberitakan. Selipan quote inspiratif dari tokoh-tokoh ternama, cukup menambah cita rasa dalam kisah Ibuk dan Bayek.

Jujur, membaca novel ini membuat saya kembali menengok ke belakang dimana ada sosok orangtua yang seringkali tanpa diketahui harus berjuang supaya anaknya bisa mendapatkan yang terbaik.
Selamat buat Ibuk yang masuk jajaran nominasi Khatulistiwa Literary Award 2012.

Judul: Ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan [@Iwan9S10A]
Editor: Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Pertama, Juni 2012
Tebal: 292 hlm
Bintang: 3/5

2 thoughts on “Ibuk by Iwan Setyawan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s